Dari Prasasti Hingga Buzzer Medsos

SahabatRiau
0

Perjalanan hidup umat manusia tidak terlepas dari dua hal utama yakni diantara menguasai dan dikuasi. Diantara kedua istilah itu manusia berusaha sekuat tenaga mengkonstruksikan  istilah "kemerdekaan", kebebasan, hak azazi dan sebagainya yang narasinya selalu disesuaikan dengaan kondisi dan keadan dialektik  kekuasaan diatas. 

Mulai dari imperium, kolonialisme, negara bangsa selanjutnya  kini kembali bergeser pula pada new imperialisme global, temanya tetap sama dengan masa sebelumnya yakni menguasai atau dikuasai. Yang berubah hanyalah pola rasionalitas kekuasaan, baik merebut maupun mempertahankan. 

Keinginan untuk menguasi dan sentimen akan dikuasai (dijajah) merupakan alasan hadirnya konflik diantara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Para Raja dimasa kuno hingga penguasa disaat ini berupaya merebut kekuasan dan memcoba sekuat tenaga mengekalkan dan meluaskan kekuasaan itu. Bagi mereka yang menguasai dan mempertahankan kekuasaan diperlukan sebuah kekuatan sakral yang harus masuk ke hati rakyat yang dikuasinya. Demikian pula bagi yang merebutnya kekuasa  harus pula memiliki kekuatan sakral itu sehingga dapat meyakinkan masyarakat bahwa merekalah sang terpilih itu. 

Kekuatan itu harus terhujam kedalam sanubari masyarakat yang boleh jadi melahirkan rasa kagum, bangga, terpukau atau bahkan takut dan mencekam. Keadaan itu  boleh kita nyatakan sebagai "mitos kekuasaan". Untuk melahirkan mitos kekuasa diperlukan kekuatan narasi yang selaras dengan  kemampuan literasi masyarakat pada masa tersebut. 

Hadirnya Prasasti, kronik (Hikayat), buku-buku sejarah, propaganda Media Masa hingga tulisan dinding, status dan konten-konten  media sosial adalah kekuatan literasi yang digunakan untuk memunculkan mitos kekuasaan itu. 

Prasasti dari Kerajaan Sriwijaya, Kedukan Bukit, Ligor, Kota Kapur, Talang Tuo dan Palas Pasemahan serta prasasti-prasasti lainnya yang tersebar Mulai dari Sumatera, Semenanjung Malaysia hingga Thailand, merupakan prasasti dari kerajaan Seriwijaya yang menguasai Nusantara diperkirakan dari abad ke 6 sd 13 M. Prasasti-prasasti itu dipasang ditempat-tempat tertentu sebagai penanda dan  mengokohkan Mitos kekuasan Sriwijaya. Isi dari prasasti-prasasti tersebut adalah mengisahkan kebesaran para penguasa dan atau kutukan-kutukan. 

Narasi pada prasasti tidaklah begitu penting untuk difahami namun literasi masyarakat kala itu yang memang belum mengenal apapun dalam konteks tulis baca, sehingga lebih terfokus pada untaian tulisan-tulisan yang dipandang sebagai mantra dan  diagap menyimbolkan kekuatan mistis yang siap pmenghukum siapapun yang melakukan perbuatan melawan penguasa. Prasasti sebagai penjaga kedaulatan Raja kuno bertahan cukup lama. 

Ketika literasi masyarakat sudah mulai kenal aksara, peran prasasti sebagai mitos kekuasaan sudah agak mulai memudar. Maka muncul pula kronik (hikayat) sebagai pengganti prasasti yang tujuannya sama untuk melahirkan mitos kekuasaan. Bukan hanya di Nusantra dibelahan Dunia lainnya kronik menjadi alat propaganda yang ampuh untuk merebut kekuasaan dan atau mengekalkannya. 

Hikayat Iskandar Zulkarnain, merupakan kronik yang populer di Dunia melayu yang inspirasinya dari Alexsander Romance merupakan novel kuno yang diterjemahkan dalam banyak bahasa namun diperkirakan bahasa asli novel ini adalah bahasa Yunani yang ditulis sebelum tahun 338 M. Dari kisah inilah Hikayat Melayu diturkan yang mengambarkan hadirnya sosok Sangsa Purba yang turun dari Bukit Siguntang Mahameru yang merupakan garis keturunan Iskandar Zulkarnain. Sangsa Purba lah yang mendirikan Kerajaan Sriwijaya dan salah seorang anaknya bernama sang nila utama pula mendirikan kerajaan Temasik di Singapura dan dari sanalah Silsilah Kerajaan Melaka berdiri. 

Pengekalan garis keturunan dari tokoh-tokoh hebat ini ditasbihkan baik dalam bentuk penuturan sasra lisan maupun tulisan yang dibukukan. Agaknya hal inilah yang menjadi pertikaian ketika raja Aceh Iskandar Muda, melarang Johor untuk melanjutkan proyek penulisan Salatus Salatin yang konon, Kitab Sejara Melayu yang ditulis Tun Serilanang itu berupaya memposisikan Penguasa Johor pada masa itu sebagai pewaris sah silsilah keturunan Kerajaan Melaka, dengan menghilangkan Perak dari garis silsialah keturunan Melaka tersebut. Bukan tanggung tanggu, dikisahkan Aceh yang memiliki hubungan baik dengan Perak itu bahkan menagkap Sang penulis dan membawanya ke Aceh. Sebagai penyeimbang, Aceh pula membuat kronik Hikayat Aceh yang ditulis oleh Syeh Samsudin As Sumaterani. 

Selaras dengan perkembangan Revolusi Industri. Era mesin cetak berkembang, kekuatan kronik masih tetap hadir namun masyarakat sudah mulai memiliki kecerdasan literasi yang sedikit faktual akhirnya media masa, surat kabar menjadi alat propaganda baru di era kolonial hingga awal negara bangsa. Di era Orde baru di Indonesia bahkan memiliki menteri khusus yang menangani Media masa koran, majalah, terbitan lainnya, Radio dan Televisi. yakni Menteri Penerangan. Media masa harus dikuasi, pemberitaan harus mengokohkan kekuasaan orde baru sebagai orde pembangunan dehingga presiden Suharto dijuluki Bapak Pembangunan. 

Harmoko sebagai menteri penerangan saat itu sangat keras dengan pemberitaan yang terkesan melawan pemerintah. Tidak sedikit media masa yang dicabut izinnya (breidel). Isu pembreidelan suarat kabar menjadi topi yang viral dimasa orde baru hinggalah kementerian itu dibubarkan di era reformasi. 

Propaganda yang melahirkan mitos kekuasaan sangat efektif menggunakan media masa diera tersebut. Sehingga ada sebuah lagu khasidah Nasidariah yang menjuliki Wartawan propesi penulis-penulis Media itu sebagai "Ratu Dunia". 

Literasi masyarakat diera Revolusi Induatri 4.0 terjadi diatrupsi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya media masa kalang-kabut dan media sosial mengambil peran hampir seluruhnya, disaat itu literasi masyarakat bergeser pada literasi digital. Wartawan tidak lagi jadi Ratu Dunia karena semua orang disemua tempat dapat mengabarkan apapun dalam kondisi apapun melalui smartphonenya denga  berbagai platform media sosial. Apakah disaat ini Mitos Kekuasan punah-ranah oleh rasionalitas praktis teknologi. Jawabannya tidak,  "Buzzer"  Adalah sekolmpok orang yang berselancar di jejaring media yang mempromosikan meninggikan seseorang dan menjatukan orang yang lain yang menjadi lawannya. 

Buzzer mengawal opini natizen ( Citizen Of Net) melalui konten-konten yang menarasikan tuannya dengan gegap ngempita. Dan menyerang lawan-lawan tuannya. Mereka seolah menorehkan kalimat-kalimat sakral atau hikayat-hikayat denga  berbagai alur narasi yang meyakinkan. Mereka biasnya memiliki data sahih tentang target natizennya, apakah genarasi X, Y, Z atau Alfa. Bagi bereka selalu ada cara untuk generasi-generasi itu dengan pola dan model yang berbeda. Terminologi GenZ "Gemoy" Sebagai contoh menarik yang ternyata mampu menarik perhatian pemilih pemula di Indoneaia sehingga Prabowo-Gibran Menang dalam pemilihan Presiden Indonesia 2024.

Mitos kekuasan agaknya tidak akan pernah meninggalkan kancah dialegtik kekuasaan sampai kapanpun. Yang berubah hanyalah medianya saja. Mitos kekuasan bisanya mendahuli analisi akademik yang rumit. Berbeda dengan literasi akademik, mitos kekuasaan itu hadir dari kebutuhan  dialektik  kekuasan. Penguasa yang mempertahankan dan meluaskan kekuasaannya, dan kelompok oposisi penguasa yang berupaya merebut kekuasaan. Mitos kekuasaan  medahuli analisis akademik karena ia tidak terlalu perlu dengan fakta jika ia tidak diperlukan. Anakisis akademik akan datang kemudian dalam bentuk apakah menguatkan mitos itu, atau melemahkannya melalui analisis yang bersifat ilmiah melalui data dan fakta yang tersedia setalah mitos kekuasaan itu berlalu meninggalkan masa kegemilangannya, selanjutnya berproses mitos kekuasan baru yang melayani dialegtika kekuasaan berikutnya yang baru pula. 

Penulis : Dr. H. M. Rizal Akbar
Dosen IAITF Dumai


Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)