Penerimaan Mahasiswa Baru Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai tahun 2021, layari www.pmb.iaitfdumai.ac.id

Pendeknya Hari

Oleh: Dr. H. M. Rizal Akbar

Beberapa waktu lalu para ilmuan turut konsen dengan isu waktu yang semakin bergerak cepat. Hari yang semakin pendek meskipun dalam hitungan yang sama bahwa siang dan malam sama-sama 12 jam, namun terasa amat pendek dirasakan. 

Jarak waktu yang pendek itu, apakah tentang perspektif yang dirasakan atau sebuah realitas perputaran bumi, tentu harus dapat dijelaskan secara akademik. Namun yang menarik adalah bahwa singkatnya kehadiran hari demi hari bahkan minggu, bulan dan tahun demi tahun, merupakan sesuatu yang dirasakan oleh banyak orang dimasa ini. 

Ada yang mengaitkan hal tersebut dengan fenomena akhir zaman, ada pula yang mengaitkannya dengan perubahan budaya hidup manusia akibat hadirnya teknologi yang semakin canggih sehingga manusia menjadi semakin larut dengannya. 

Argumentasi pertama bahwa merupakan fenomena akhir zaman akan sangat mungkin dijelaskan melalui pendekatan doktrin keagamaan. Namun untuk argumentasi kedua bahwa budaya manusia yang semakin bergeser akibat perkembangan teknologi, tentu menjadi sebuah gagasan yang layak didiskusikan terus. Karena kreatifitas manusia dalam melahirkan teknologi baru sepertinya merupakan motifasi yang tidak mungkin dapat dibendung. 

Kecanggihan teknologi informasi yang bergerak terus bahkan sudah masuk pula pada era kecerdasan buatan tentu akan memotifasi para ilmuan dan teknokrat untuk melahirkan teknologi-teknologi baru yang semakin memudahkan manusia dalam semua sendi kehidupannya. 

Keterlenaan manusia dengan segala perangkat teknologi yang mendampinginya, menyebabkan manusia lalai dengan waktu dan merasa cukup dengan dirinya sendiri, sehingga merasa kurang penting untuk interaksi langsung. Sehingga melayani dan dilayani teknologi sudah cukup bagi mereka untuk menghabiskan waktunya. 
Share on Google Plus

About 120974

0 Comments:

Posting Komentar